[REVIEW FILM] SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN (2025)

Sebuah Perjalanan Cinta, Waktu, dan Usaha yang Tak Pernah Sia-Sia

⭐ 10/10 — Best Movie of The Year


Delapan tahun yang lalu, aku jatuh cinta pada
Sore: Istri dari Masa Depan, sebuah webseries pendek yang tayang di YouTube. Waktu itu, ceritanya sederhana, tapi meninggalkan bekas yang dalam. Webseries ini jadi semacam standar pribadi buatku dalam menilai cerita-cerita cinta bernuansa sci-fi yang disampaikan dengan ketulusan. Makanya, begitu dengar kabar kalau Sore akan dibuat versi film panjangnya tahun 2025 ini, aku langsung deg-degan. Ekspektasi? Gak ada. Karena webseries-nya udah top tier banget. Tapi ternyata, film ini dengan santainya membalikkan semua itu: dia nggak cuma memenuhi ekspektasiku—dia melampauinya.


Cerita Cinta yang Melintasi Waktu

Sore: Istri dari Masa Depan menceritakan tentang Sore, seorang istri yang datang dari masa depan untuk menyelamatkan suaminya, Jonathan, dari kematian yang sudah terjadi di timeline mereka. Dengan menggunakan konsep time loop dan multiverse, Sore mencoba mengubah gaya hidup Jo. Misi Sore sederhana: menyelamatkan suaminya, walau itu berarti harus berulang kali mengalami masa lalu yang sama.

Tiga Babak, Tiga Sudut Pandang

Film ini dibagi dalam tiga babak utama: POV Jonathan, POV Sore, dan satu babak pamungkas yang… no spoiler, tapi JENIUS.

Babak Pertama (POV Jonathan): Ini adalah bagian yang terasa familiar buat kamu yang udah nonton webseries-nya. Tapi meski sebagian besar ceritanya mirip, ada banyak detail baru yang bikin cerita ini tetap segar, termasuk seputar penyakit 'baru' Jonathan yang baru diungkap di film.

Babak Kedua (POV Sore): Inilah inti emosional film. Di sini kita diajak masuk ke dunia Sore: perjuangannya, keputusasaannya, dan ketulusannya yang gak kenal lelah. Di sini juga penonton diajak bertanya: sampai sejauh apa kamu akan berjuang demi orang yang kamu cintai, apalagi kalau dia sendiri belum ingin berubah? Babak ini mentally exhausting banget, tapi dengan cara yang sangat manusiawi. Ini bagian yang membuatku benar-benar merasa dekat dengan karakter Sore.

Babak Terakhir: Ini dia klimaks yang gak akan aku bocorkan. Tapi buatku, ini bagian terbaik dari seluruh film. Penuh kejutan, emosional, dan sangat memuaskan secara naratif maupun sinematik. Di sini, Yandy Laurens benar-benar membuktikan dirinya sebagai storyteller ulung.


Penampilan & Penyutradaraan

Sheila Dara tampil luar biasa sebagai Sore. Emosinya nyampe banget, ekspresinya detail, dan energinya menghidupkan naskah. Dia juga menghidupkan kembali karakter Sore dengan sangat baik. Ditambah, kefasihannya dalam bahasa Kroasia membuat kita mempercayai semua kejadian yang Sore alami dan layak mendapat pujian lebih. Sementara Yandy Laurens, sang sutradara, berhasil menyajikan cerita dengan ketenangan dan keintiman yang khas—sangat Yandy, tapi juga terasa lebih matang dan visioner dari karya-karyanya sebelumnya.

Musik, Scoring, dan Visual

Satu hal yang gak bisa aku abaikan adalah soundtrack-nya. KAWIN BANGET sama filmnya. Musik dan scoring-nya bener-bener nyatu sama cerita. Rasanya jarang banget nemu film lokal yang punya keharmonisan sebaik ini antara visual, emosi, dan suara. Ditambah lagi dengan sinematografi indah yang membawa kita ke lanskap eksotis ala Kroasia—bikin kita sebagai penonton terasa dilibatkan langsung dalam dunia Sore dan Jonathan.

Refleksi: Perubahan dan Cinta

Film ini bukan cuma tentang cinta, tapi tentang usaha. Tentang bagaimana kamu bisa memberikan segalanya demi seseorang, tapi tetap sadar bahwa perubahan sejati hanya datang dari dalam. Bukan dari tekanan, bukan dari cinta yang memaksa, tapi dari kesadaran diri. Dan kadang, menyerah bukan berarti berhenti mencintai, tapi memilih bentuk cinta yang baru: menerima.

Kesimpulan

Sore: Istri dari Masa Depan adalah kisah cinta yang mengajak kita berpikir, bertanya, bahkan membuat kita lelah bersama karakternya. Ini bukan kisah cinta biasa. Ini adalah cerita tentang kegigihan, penyesalan, dan harapan. Dengan narasi kuat, karakter mendalam dan penyutradaraan yang matang, film ini adalah masterpiece lokal yang layak dikenang.

Cinta sejati bukan tentang memaksa orang berubah, tapi tentang bertahan untuk percaya bahwa perubahan itu mungkin.

Posting Komentar

0 Komentar