[REVIEW KDRAMA] When Life Gives You Tangerines [2025] Vol 1 and Vol 2 (Eps 1-8) Opinions

WHEN LIFE GIVES YOU TANGERINES : DRAMA ROMANTIS PENUH TANGIS DI AWAL TAHUN 2025




Main Cast

IU as Oh Ae Sun (Remaja) dan Yang Geumyeong

Park Bogum as Yang Gwan Sik (Remaja)

Moon So Ri as Oh Ae Sun (Dewasa)

Park Hae Joon as Yang Gwan Sik (Dewasa)




Drama highly anticipated comeback dari IU dan Park Bogum berjudul When Life Gives You Tangerines yang disiarkan perdana di Netflix pada 7 Maret 2025 lalu berhasil menyita perhatian pecinta K-drama. Drama yang ditayangkan dalam 4 volume ini, dengan 4 episode dirilis sekaligus setiap hari Jumat, telah berhasil mempertahankan posisi teratas di Netflix Indonesia sejak debutnya. Sampai tanggal 14 Maret, sudah ada 8 episode yang tayang di Netflix. Berikut opini penulis tentang When Life Gives You Tangerines.

Di awal, kita diperkenalkan dengan kehidupan Oh Ae Sun dan Yang Gwan Sik di pulau Jeju. Oh Ae Sun sebagai anak yatim dengan ibu seorang haenyeo (penyelam wanita yang menangkap berbagai hasil laut, seperti rumput laut, pauhi, dan kehidupan laut lainnya sebagai mata pencaharian) yang tumbuh bersama kedua adik tirinya. Dan Yang Gwan Sik sebagai anak nelayan sekaligus penjual ikan hasil tangkapan ayahnya. Berikutnya, Yang Gwan Sik yang tumbuh besar bersama Oh Ae Sun (dan terus menunjukkan rasa sukanya pada Ae Sun) berperan penting dalam setiap fase kehidupan yang dijalani Oh Ae Sun terutama sejak ibunya ikut menyusul sang ayah ke akhirat.

Oh Ae Sun dijuluki "Gadis Sastra" karena kepintarannya, hobi membacanya, dan bakatnya dalam menulis puisi. Ia juga selalu bercita-cita untuk bisa pergi berkuliah. Satu kata yang menggambarkan dirinya adalah 'berbakat'. Namun kemalangan terus terjadi pada Oh Ae Sun bahkan sejak ia kecil. Tidak hanya hidup yatim piatu dan miskin, ia juga 'dijebak' oleh ayah tirinya untuk mengurus kedua adik kecilnya hingga harus ikut mencari nafkah lewat pekerjaan kasar sebagai petani dan penjual kubis. Mimpinya untuk bisa berkuliah pun mesti kandas.

Meski begitu, ada Yang Gwan Sik yang selalu menjadi pendukung setianya di setiap kesulitan. Dengan banyak kemalangan yang terjadi pada Ae Sun, nampaknya menikah dengan Yang Gwan Sik merupakan satu-satunya kebahagiaan Ae Sun.

Namun, hidup terus berjalan. Bahkan setelah menikah, kemalangan-kemalangan Ae Sun tetap berlangsung. Tidak ada yang berubah kecuali anggota keluarganya yang semakin bertambah (dan berkurang). Kini Ae Sun memiliki keluarganya sendiri, tidak lagi hidup sebatang kara sebagai yatim piatu. Kini Ae Sun memiliki suami juga anak-anaknya. 

- the kinda spoiler things -

Aku sangat menyukai bagaimana drama ini berpusat dan terfokus pada permasalahan wanita di setiap masa (dari tahun 1950an hingga tahun 2000an). Penggambaran dari masa ke masa ini membuat aku tersadar bahwa mimpi seorang ibu akan diwariskan kepada anaknya dan akan terus berlanjut hingga generasi berikutnya. Ini diawali dari mimpi ibu Ae Sun untuk tidak menjadikan putrinya seorang haenyeo seperti dirinya, lalu mimpi Ae Sun untuk berkuliah yang akhirnya diwariskan pada anaknya Yang Geum Yeong.   

Entah harus bersedih atau merasa kasihan dengan kehidupan Ae Sun. Di satu sisi, aku merasa kasihan padanya karena dia hidup di era yang salah. Seharusnya dia bisa menjadi 'orang sukses' dengan bakatnya, tetapi di sisi lain, Ae Sun beruntung karena dia memiliki banyak orang yang mencintai dan peduli padanya. Ae Sun mungkin merasa hidupnya penuh dengan kesulitan, tetapi dia tidak berlarut-larut karena dia memiliki support system, orang-orang yang memberinya banyak motivasi dan dukungan moral serta material. Dia memiliki bibi-bibinya, dia memiliki anak-anaknya, dia memiliki neneknya, pasangan kakek-nenek yang memiliki rumah sewa dan yang terpenting dia memiliki Gwan Sik. Bahkan, aku merasa sangat sedih untuk Gwan Sik. Dia selalu menjadi 'tameng' bagi Ae Sun dan anak-anaknya, dan menurutku bebannya jauh lebih berat daripada Aesun karena dia tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak curhat. Selama ini, dia tidak menceritakan semua kesulitannya. Dia memendam semua yang dia rasakan selama puluhan tahun. Mengapa? Karena karakternya dibuat untuk menjadi seorang support system penuh bagi Ae Sun bahkan saat dia masih anak-anak! Di satu sisi itu merupakan berkah, tetapi bagiku itu juga terasa seperti kutukan. Terlebih dengan fakta bahwa tidak banyak film/drama Korea yang terfokus pada para karakter wanitanya, tentu When Life Gives You Tangerines merupakan suatu langkah berani yang memberikan dampak positif di berbagai aspek.

Aku tahu mungkin itu yang diinginkan Gwan Sik. Menjadi pendukung setia Ae Sun seumur hidupnya. Tapi tetap saja. Kupikir setelah puluhan tahun berlalu, hubungan mereka akan berubah menjadi lebih baik. Kupikir hubungan mereka tidak akan selalu berpusat pada Ae Sun dan anak-anaknya. Karena setelah kehilangan anak bungsunya, aku yakin Gwan Sik juga punya pendapat, punya perasaan yang perlu dia ungkapkan. Karena yang dia punya adalah keluarga, kurasa dia akan mencurahkannya pada keluarga. Tapi dia bertahan sendirian. Mungkin Gwan Sik baik-baik saja menanggung semua perasaannya sendirian, tapi aku tidak.

Di eps 8, akhirnya aku menemukan jawabannya. Lewat pengakuan Ae Sun pada ibunya di dalam mimpi, mereka berdua merasa saling mengerti perasaan masing-masing tanpa harus saling bicara. Padahal menurutku bicara itu bukan cuma untuk saling mengerti perasaan satu sama lain, tapi juga untuk saling melepaskan beban. Di eps ini, aku setuju banget sama ibunya Ae Sun. 

bahkan laut yang dalam menggunakan ombak untuk mencurahkan kegelisahan.

Tapi kayaknya Gwan Sik dan Ae Sun nggak akan pernah ngobrol sebelum Gwan Sik menjalani endoskopi bertahun-tahun kemudian dan terus meracau tentang 'pagar pembatas' yang selama ini dia benci. Di tahap ini, kalau aku jadi Ae Sun, kurasa aku nggak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri selamanya. Di titik ini, aku merasa hubungan mereka nggak seimbang dan terlalu fokus pada Ae Sun (yang aku tahu, pernyataan ini salah)

Aku tahu Ae Sun melawan kapten Bu saat Gwan Sik ditindas olehnya, juga banyak hal lain yang Ae Sun lakukan untuk membela Gwan Sik. Tapi aku cuma mau Gwan Sik ngomong! Aku butuh dia buat nunjukin semua kesulitan yang dia rasa. Karena kenapa Ae Sun selalu tahu masalah Gwan Sik dari orang lain? Menyebalkan sekali! Aku benar-benar benci karakter Gwan Sik ini (dan Ae Sun pasti merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan)

Tapi melihat ocehanku sejauh ini, dengan semua kerumitan karakter, konflik dan semua elemen dalam drama ini, aku semakin yakin bahwa drama ini layak mendapat banyak pujian. Drama ini menjelaskan secara rinci tentang pasang surut kehidupan yang terjadi di setiap generasi dengan baik.

Selanjutnya, masih ada 2 volume yang tersisa hingga ending. Tentunya. masih ada musim panas lain yang menerpa keluarga kecil mereka dan aku menantikan kisah itu. Cara seperti apa lagi yang akan mereka lakukan untuk menghadapi hidup yang terus berjalan ini?

Posting Komentar

1 Komentar

  1. vol 3 nya udah tayang dan bahkan lebih menguras emosi!! bagi yang masih ada orangtua, sangat disarankan untuk ditonton bersama mereka (terutama ibu kalian) karena in my experience, emosinya akan lebih terkuras. kapan lagi nonton drama korea sambil nangis-nangis bareng ibu??

    walaupun 2025 belum selesai, drama ini aku anugerahkan title 'best drama of the year'.

    kalau bukan IU, Park Bogum, Moon So Ri dan Park Hae Joon yang jadi pemerannya utamanya, kayanya emosi yang ada di drama ini akan sulit tersampaikan kpada penontonnya

    BalasHapus

~ Treat People With Kindness ~